Kajeng Kliwon Uwudan, Enyitan, dan Pameles Tali
Rahinan Kajeng Kliwon merupakan hari beryoganya Siwa dan Dewi Durga. Serta Beliau melepas rerencangannya untuk menggoda umat manusia.
Om Swastyastu

Menurut keyakinan Umat Hindu, hari Kajeng Kliwon Uwudan merupakan hari Kajeng Kliwon yang terjadi setelah Purnama. Sedangkan hari Kajeng Kliwon Enyitan terjadi setelah Tilem. Kedua penamaannya tersebut berpatokan pada Sasih yaitu Purnama dan Tilem. Selain itu, terdapat juga Hari Kajeng Kliwon Pameles Tali, yang perayaanya setiap 6 bulan sekali. Jatuh perayaanya pada hari minggu dan bertepatan dengan berakhirnya pawukon Watugunung.

Sehingga terdapat 3 jenis Kajeng Kliwon yaitu :

  1. Kajeng Kliwon Uwudan, yang merupakan jatuh  perayaannya setelah Purnama,
  2. Kajeng Kliwon Enyitan, yang merupakan jatuh perayaannya setelah Tilem,
  3. Kajeng Kliwon Pameles Tali, yang jatuh perayaannya setiap 6 bulan sekali, yaitu pada saat berakhirnya pawukon.

Menurut Masyarakat Hindu Bali, Rahinan Kajeng Kliwon merupakan hari yang turunnya Para Bhuta Kala. Merekan konon mencari orang - orang yang tidak melaksanakan Dharma. Biasanya Umat Hindu Bali menghaturkan segehan Manca Warna dengan tetabuhan Tuak Arak Berem. Sebagai perwujudan Sradha Bakti kepada Sang Hyang Siwa yang telah nyomya ( mengembalikan) Sang Bhuta Tiga Bucari.

Kajeng Kliwon

Kajeng Kliwon merupakan hari yang jatuh perayaanya berdasarkan pertemuan Tri Wara dan Panca Wara. Tri Waranya yaitu Kajeng, sedangkan Panca Waranya yaitu Kliwon. Pertemuan dua wewaran tersebut terjadi selama 15 hari sekali, sehingga jatuh perayaannya setiap 15 hari sekali.

Menurut Lontar Kala Maya Tattwa, Kajeng merupakan hari prabawanya Sang Hyang Durga Dewi, yang merupakan perwujudan dari Ahamkara. Ahamkara merupakan perwujudan  dari kekuatan Bhuta, Kala, dan Durgha (Sang Bhuta Tiga Bucari) yang ada di muka Bumi. Dalam filosofi Agama Hindu, Ahamkara juga dapat berarti harga diri yang berlebih atau ego. Sementara Kliwon merupakan hari prabawanya sang Hyang Siwa sebagai keturunan Dharma.

Menyatunya unsur Siwa dan Dhurga, akan melahirkan kekuatan Dharma Wisesa. Sehingga akan melahirkan kesedihan, kesakitan dan kemandirian yang selalu dikendalikan oleh Dharma atau kebaikan. Hal ini berarti hanya kekuatan Dharmalah yang mampu mengendalikan kekuatan - kekuatan negatif.

Jika kita lihat dari cerita Bhatara Kala. Ia harus memotong taringnya bila ingin menjumpai kedua orang tuanya yaitu Bhatara Siwa dan Bhatari Umi Parwati. Kisah tersebut sangat melekat di masyarakat dan upacara potong gigi menjadi sebuah kewajiban semasa kita hidup di Dunia ini. Apabila tidak melaksanakan potong gigi maka tidak akan mampu mencapai Sorga.

Hindu tidak memandang Bhuta Kala sebagai makhluk yang jahat, makhluk yang tidak dinginkan ataupun menganggap sebagai makhluk yang keberadaanya tidak dinginkan diatara Manusia dan Tuhan. Tetapi agama Hindu tidak menganggap seperti itu, Bhuta Kala merupakan pelengkap kehidupan. Jika tidak ada yang buruk, maka tidak akan ada yang baik. Seperti halnya konsep Rwe Bineda, bahwa kehidupan tergantung dari dua unsur yang berlawan. Tetapi ada hal yang harus kita ingat, bahwa kebenaran (Dharma atau Pengetahuan) akan selalu lebih unggul dari kejahatan (Adharma atau kegelapan). Hanya kebenaranlah yang mampu menundukkan atau mengendalikan kekuatn - kekuatan negatif.

Makna Kajeng Kliwon

Dalam Lontar Sundarigama disebutkan, bahwa pada saat Kajeng Kliwon merupakan hari beryoganya Siwa dan Dewi Durga. Serta Beliau melepas rerencangannya (anakbuahnya) untuk menggoda umat manusia denga para Bhuta Kalanya. Selain itu, hari ini merupakan hari yang sangat keramat. Penyebabnya karena kekuatan - kekuatan negatif dari luar ataupun dari dalam diri akan muncul dan menggangu kehidupan manusia.

Agama Hindu meyakini bahwa terdapat dua dimensi dunia yang berbeda, yaitu alam niskala kedewataan (alam luhur) dan alam kebhutanan (alam bawah) yaitu alam para Bhuta Kala. Untuk mencapai kedamaian ataupun keseimbangan, umat Hindu Harus mampu menjaga kedua alam tersebut.

Beberapa dari Kitab Usadha, Tatwa dan Purana menyebutkan, bahwa dalam diri manusia sebenarnya bersemayam Roh Agung dan alam semesta beserta isinya. Hal itu juga berarti, kedua unsur Dewa dan Bhuta yang merupakan sebagai lambang kebaikan dan keburukan, atau keadaan sadar (Jnana) dan keadaan lupa (Awidya). Kedua unsur tersebut berada dan bercampur dalam diri Manusia. Sekarang tergantung dari diri kita sendiri, apakah kita akan mampu menyeimbangkan ataupun mengendalikan diri ke arah unsur Dewa ataukan kita akan kalah sehingga mengalami kegelapan.

Menurut Jero Mangku Ketut Maliarsa, yang dikutip dari bali.tribunnews.com. Beliau menyampaikan beberapa cara untuk menyeimbangkan kedua alam tersebut, baik alam kedewataan dan alam kebhutanan. Menjaga alam Kedewataan yaitu dengan cara memuja keagungan Ida Sang Hyang Widi Wasa beserta manifestasinya dengan sarana bebantenan, sesuai dengan kemampunan atau dengan canang sasebit sari. Sedangkan untuk sang Bhuta Kala, dengan cara menghaturkan caru yang paling sederhana berupa segehan di natah sanggah, di natah umah dan di lebuh. Menghaturkan segehan tersebut bertujuan untuk nyomya para watek Bhuta Kala.

Jadi dapat kita simpulkan, bahwa makna dari Rahinan Kajeng Kliwon yaitu untuk membentengi atapun melindungi diri dari gangguan - gangguan para Bhuta Kala, serta terhindar dari berbagai godaan. Maka pada saat Rahinan Kajeng Kliwon kita harus menghaturkan caru yang paling sederhana, yaitu menghaturkan segehan.

Tata Cara Pelaksanaan Yadnya

Dalam Babad Bali menjelaskan tata cara untuk melaksanakan Yadnya pada saat Kajeng Kliwon. Adapun pelaksanaan Yadnya yaitu menghaturkan segehan Manca Warna (nasi kepal berwarna mereh, hitam, putih, kuning dan brumbum), tetabuhannya adalah tuah / arak berem. Segehan tersebut disembahkan kepada Sang Tiga Bucari Adapun tempat - tempat menghaturkan segehan, yaitu di halaman sanggah (kepada Sang Bhuta Bucari),  di halaman rumah (kepada Sang Kala Bucari) dan di depan pintu gerbang (kepada Sang Dhurga Bucari).

Kesimpulan

Terdapat 3 jenis Kajeng Kliwon, yaitu Uwudan, Enyitan, dan Pameles Tali. Perayaan Kajeng Kliwon merupakan sebagai wujud terimakasih kepada Sang Hyang Siwa, yang telah nyomya (mengembalikan) Bhuta Kala. Karena hanya dengan kekuatan Dharmalah yang mampu mengendalian kekuatan - kekuata negatif.

Umat Hindu tidak mengangap Bhuta Kala sebagai makhluk jahat, yang keberadaanya tidak diinginkan. Tetapi menganggap Bhuta Kala sebagai bagian penyeimbang alam. Seperti halnya filosofi Rwe Bhineda yang mampu menciptakan keseimbangan dari dua unsur yang berlawana. Ada yang buruk pasti ada yang baik, ada yang baik pasti akan ada yang jahat. Seperti halnya Makna Rahinan Kajeng Kliwon, Hanya kekuatan Dharma (Sang Hyang Siwa) yang mampu mengendalikan / menetralkan kekuatan - kekuatan negatif (Bhuta Kala).

Seperti kita lihat, umat Hindu pada saat melaksanakan Yadnya pasti mengundang Bhuta Kala. Baik pelaksanaan Yadnya secara Nitya atau Naimitika Yadnya. Contohnya kecil, seperti melaksanakan Yadnya Sesa setelah memasak. Kita tidak hanya menghaturkan puji syukur kepada Tuhan, Bhatara - Bhatari, ataupun kepada Leluhur. Kita juga menghaturkan persembahan kepada Bhuta Kala. Melaksanakan persembahan harus sesuai dengan etika ataupun berlandaskan sesuai filosofi dari sastra Weda. Jika kita tidak melakukan sedemikian, kitalah Bhuta Kala itu sendiri.

Begitu halnya saat melaksanakan upacara Yadnya yang tergolong besar, akan selalu mengundang para Bhuta Kala untuk selalu hadir dan mensukseskan pelaksanaan upacara Yadnya tersebut. Bhuta Kala diundang, diberi sesajen dan setelah mereka menikmati diharapkan tidak menggangu proses Upakara. Selaitu itu, juga berlangsung proses nyomya kala oleh manggala upacara. Adapum tujuaanya, agar para Bhuta Kala dapat menemukan sifat sejatinya yang selama ini tertutupi oleh kegelapan.

Om Shanti-Shanti-Shanti Om

Refrensi

Scroll to Top