Pengertian dan Jenis Pelaksanaan Nitya Karma
Nitya Karma merupakan Pelaksanaan yadnya yang kita lakukan setiah hari, setiap saat, dan kegiatan tersebut selalu kita lakukan

Dalam Agama Hindu mengenal lima jenis Yadnya / korban suci secara tulus ikhlas yaitu Panca Yadnya. Lima jenis yadnya tersebut yaitu Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusia Yadnya dan Bhuta Yadnya. Selain itu, Agama Hindu juga mengenal dua jenis Yadnya berdasarkan waktu pelaksanaannya, yaitu Nitya Karma dan Naitmitika Karma. Nitya Karma adalah yadnya yang pelaksanaanya setiap hari, contoh jenis pelaksanaan yaitu Puja Trisandya, Menghaturkan banten canang dan Yadnya Sesa. Sedangkan Naitmitika Karma adalah pelaksanaan Yadnya pada hari - hari tertentu, seperti hari Raya Saraswati dan hari Raya Galungan.

Pengertian Nitya Karma

Nitya Karma berasa dari kata Nitya artinya selalu atau setiap hari, sedangkan Karma artinya perbuatan atau Yadnya. Jadi Nitya karma adalah Yadnya yang pelaksanaanya setiap hari dan bersifat rutin. Dengan melaksanakan Nitya Karma, berarti kita telah mensyukuri apa yang Ida Sang Hyang Widi Wasa anugrahi kepada kita. Selain itu, melaksanakan Nitya Karma juga berarti melaksanakan kewajiban secara tulus iklas atau Dharma Bhakti.

 

Setiap hari kita memerlukan makan dan minuman untuk mampu bertahan hidup. Darimanakah makanan dan minuman tersebut berasal? bukankan semua itu berasa dari alam. Walaupun makanan dan minuman kita peroleh dari proses transaksi kita kepada pedangan, tetapi semua berasal dari alam. Apapun yang kita makan atau minum, itu semua berasa dari alam. Siapa yang menciptakan alam ini? pastinya yang menciptakan alam ini adalah Tuhan / Ida Sang Hyang Widi Wasa.

 

Apapun yang kita makan dan minum, apapun yang kita pakai, dan di manapun kita berada. Semua itu kita peroleh dari mengolah alam ciptaan Tuhan. Sehingga pelaksanaan Yadnya wajib kita lakukan, untuk membalasa hutang kita kepada Tuhan. Selain itu, Beliaulah beryadnya pertama kali dalam menciptakan alam semesta ini beserta isinya.

 

Jenis - jenis Pelaksanaan Nitya Karma

Berikut ini merupakan contoh pelaksaanya Nitya Yadnya, yaitu :

Surya Sewana

Bagi seorang Sulinggih berkewajiban untuk melaksanakan Surya Sewana. Surya Sewana merupakan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa / Tuhan Yang Mahas Esa, dalam perwujudan-Nya sebagai Sang Hyang Surya dan juga sebagai saksi abadi. Adapaun tujuan dari pelaksanaan Surya Swana yaitu sebagai penyucian diri secara lahir batin, dalam rangka meningkatkan kemampuan spiritual seorang Sulinggih.

 

Kita tidak harus menjadi seorang sulinggih untuk melaksanakan Surya Sewana / rasa syukur kepada Tuhan. Apapun posisi, jabatan ataupun tugas kita saat ini, milikilah rasa syukur sebelum beraktifitas. Sebelum kita sibuk dengan rutinitas harian. Semisal sekolah, kuliah, bekerja dan aktifitas - aktifitas lainnya. Ada baiknya pada saat bangun pagi, kita mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan atas kehidupan sekarang ini. Serta memohon kepada Tuhan, agar hari ini bisa selalu ingat kepada-Nya dan Tuhan selalu menuntun segala aktifitas yang kita lakukan hari ini.

Ngejot

Pelaksanaan ngejot atau upacara saiban atau yadnya sesa merupakan rangkaian pelaksanaannya setelah memasak dan sebelum menikmati hidangan. Pelaksanaan Yadnya Sesa merupakan ungkapan rasa syukur dan ucapan terimakasih kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa beserta manifestasinya, karena telah menganugrahi hidangan makanan kepada kita. Selau ingat, kalau makanan yang kita makan bukan semata - mata dari usaha kita sendiri, tetapi kita memperoleh bersama - sama antara makhluk satu dengan lainnya. Serta adanya bantuan dari unsur kekuatan alam yaitu Panca Maha Buta, yakni adanya kekuatan tanah (pertiwi), air (apah), api (teja), udara (bayu), dan ether (akasa).

 

Ibaratkan nasi yang kita makan. Tanaman padi tidak akan bisa tumbuh ataupun berbiji, apabila kondisi alam tidak mendukung. Semisal kondisi tanah tidak subur, kekurangan air, cuaca tidak mendukung dan kondisi - kondisi lainnya. Hal tersebut menyebabkan kita sebagai manusia membutuhkan bantuan dari alam untuk memperoleh bahan makanan.

 

Proses beras menjadi nasi dapat terjadi berkat kekuatan dan kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Melalui manifestasinya yaitu Tri Murti. Tri Murti merupakan tiga macam kekuatan Tuhan yang melindungi dan menganugrahi Umatnya. Proses beras menjadi nasi dapat terjadi karena adanya tiga kekuatan Tuhan tersebut. Dewa Brahma dengan panasnya, Dewa Wisnu dengan kekuatan airnya, dan Dewa Siwa dengan kekuatan penyupatannya atau pelebur. Ketiga kekuat tersebut menyatu bersama - sama, yang awalnya dari beras dan setelah matang menjadi nasi.

 

Jadi Pelaksanan Yadnya Sesa harus kita laksanakan, yaitu sebagai ungkapan terimakasih kepada Tuhan tentang apa yang kita peroleh saat ini. Persembahkanlah makanan terlebih dahulu sebelum kita konsumsi. Selain sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Tuhan, pelaksanaan tersebut juga bertujuan untuk tidak mementingkan diri sendiri. Tetapi dengan pelaksanaan tersebut juga bertujuan untuk mendahulukan kepentingan umum atau dharma daripada kepentingan diri sendiri atau swadarma.

Melaksanakan Puja Tri Sandya

Tri Sandaya merupakan salah satu cara untuk menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Pelaksanaan Puja Tri Sandya tiga kali dalam sehari yaitu pada pagi hari / jam 6 pagi, siang hari / jam 12 siang dan sore hari jam 6 sore. Jadi Puja Tri Sandya dapat berarti tiga pemujaan atau persembahan pada tiga pertemuan / pergantian waktu.

Makna dari pelaksanaan Puja Trinsandya, yaitu :

  1. Meyakini dengan hati yang tulus keberadaan Ida Sang Hyang Widi Wasa beserta manifestadi Beliau,
  2. Memohon perlindungan, keselamatan dan pengampunan dosa pada kurun waktu tertentu kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa,
  3. Melaksanakan penyerashan diri secara tulus kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Kalau kita lihat, dari keseluruhan mantar Puja Tri Sandya, Maka dapat memperoleh kesimpulan bahwa pertama - tama kita harus menyadari keagungan Tuhan. Bahwa Tuhan sebagai pencipta alam semesta beserta isinya, dan menyadari bahwa Tuhan berada pada setiap makhluk, serta setiap makhluk memuja Beliau. Kita sebagai manusia juga menyadari akan kekurangan diri kita, kesalahan - kesalahan yang telah kita lakukan baik yang kita sengaja ataupun tidak kita sengaja. Serta kita memohon kepada Tuhan, agar senantiasa menyelamatkan semua makhluk dan mengampuni segala dosa - dosa yang telah kita lakukan. Baik yang berasa dari pikiran, perkataan dan perbuatan atau Tri Kaya Parisudha.

Jnana Yadnya

Jnana Yadnya merupakan persembahan / pengorbanan diri dalam ilmu pengetahuan. Kita sebagai umat Hindu harus mampu mebiasakan diri untuk selalu belajar. Belajar tidak harus mengenal usia, waktu, dan keadaan. Karena dengan cara kita belajar, apalagi belajar tentang keagamaan. Maka kita akan mampu mendekatkan diri kehadapan Tuhan / Ida Sang Hyang Widi Wasa.

 

Seperti Maha Rsi kita terdahulu, yang mampu mengelola pikiran dengan kesucian ilmu pengetahuannya. Sehingga beliau mampu menerima wahyu dari Tuhan, serta mampu menerapkanya wahyu tersebut sebagai pedoman kehidupan manusia sampai sekarang. Beliau adalah Rsi Abyasa sebagai penerima wahyu Catur Weda, dan Rsi Wararuci yang menyusun sari pati Asta Dasa Parma (Mahabaratha).

 

Melalui pendidikan Agama dan Budi Pekerti, proses belajar secara formal maupun non formal. Proses pelaksanaan belajar mengajar hendaknya setiap hari dan setiap saat. Tidah harus pada saat menempuh pendidikan, tetapi harus setiap hari dan setiap saat kita terapkan. Terutama memulai pendidikan di lingkungan keluarga.

 

Dengan cara belajar agama Hindu yang merupakan wahyu dari Tuhan. Serta kita menerapkan proses belajar secara terus menerus dan setiap hari kita langsanakan proses belajar tersebut. Selai kita mempelajari ajaran Agama, kita juga menerapkan ajaran - ajaran tersebut dalam kehidupan sehari - hari. Mengajarkan ataupaun saling berbagi pemikiran di lingkungan keluarga. Maka secara tidak langsung, kita telah menerakan proses belajar secara berkesinambungan dan secara terus menerus.

Kesimpulan

Agama Hindu mengenal dua jenis Yadnya berdasarkan waktu pelaksanaannya, yaitu Nitya Yadnya dan Naitmitika Yadnya. Nitya Yadnya adalah yadnya yang pelaksanaanya setiap hari, contohnya pelaksanaan Puja Trisandya dan Yadnya Sesa. Sedangkan Naitmitika Yadnya adalah pelaksanaan Yadnya pada hari - hari tertentu, seperti hari Raya Saraswati dan hari Raya Galungan.

 

Nitya Karma berasa dari kata Nitya artinya selalu atau setiap hari, sedangkan Karma artinya perbuatan atau Yadnya. Jadi Nitya karma adalah Yadnya yang pelaksanaanya setiap hari dan bersifat rutin. Dengan melaksanakan Nitya Karma, berarti kita telah mensyukuri apa yang Ida Sang Hyang Widi Wasa anugrahi kepada kita. Selain itu, melaksanakan Nitya Karma juga berarti melaksanakan kewajiban secara tulus iklas atau Dharma Bhakti.

 

Nitya Karma merupakan Pelaksanaan yadnya yang kita lakukan setiah hari, setiap saat, dan kegiatan tersebut selalu kita lakukan. Seperti kita ketahui, Tuhan / Ida Sang Hyang Widi beryadnya pertama kali dalam menciptakan alam semesta ini beserta isinya. Beliau tidak tidak mengharapkan balasan ataupun imbalan. Tetapi dari diri kita sendiri harus mampu sadar dan mengerti itu semua. Mengerti bahwa kita merupakan percikan terkecil dari beliau, dan mengerti bahwa kita semua adalah sama. Yaitu ciptaan Yang Kuasa.

 

Melalui kesadar yang kita miliki. Kita juga memiliki kewajiban untuk memuja dan berbakti kepada Tuhan. Karena berkat beliau kita bisa hidup di dunia ini, dan berkat Beliau kita bisa melangsungkan kehidupan di dunia ini. Selain itu, kita juga harus sadar bahwa kita tidak bisa hidup sendiri di dunia ini. Kita semua saling melengkapi. Baik antara sesama manusia, makhluk hidup lainnya beserta alam. Oleh sebab itu, kita juga harus menghormati dan menjaga hubungan dengan semua ciptaan Tuhan. Salah satu contoh dengan cara menerapkan pelaksanaan Yadnya dari ajaran - ajaran Nitya Karma. Om Shanti-Shanti-Shanti Om

Daftar Pustaka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top