Memaknai Rahinan Tumpek Uye (Kandang)
Hari Raya Tumpek Uye bermakna untuk memuja keagungan Tuhan sebagai Sang Hyang Pasupati atau Shang Hyang Rare Angon yang memelihara segala makhluk di alam Semesta.

Om Swastyastu. Pelaksanaan Hari Raya Hindu sangat kental dengan makna perayaan. Terdapat salah satu hari Raya yang bertujuan untuk memilihara ciptaan Tuhan. Hari Raya tersebut yaitu Rahinan Tumpek Uye atau Tumpek Kandang atau Tumpek Wewalungan. Bermakna untuk memuja keagungan Tuhan sebagai Sang Hyang Pasupati atau Shang Hyang Rare Angon yang memelihara segala makhluk di alam Semesta. Pada hari raya ini, Umat Hindu mengadakan persembahan Yadnya kepada para Binatang (wewalungan) sebagai cerminan cinta kasih menjaga keseimbangan alam Semesta.

 

Umat Hindu di Bali tak pernah lepas terhadapat hari raya keagamaan. Hal tersebut merupakah wujud bakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa terhadap segala manifestasi-Nya. Karena semua kehidupan yang terjadi di Dunia ini merupakan atas kehendak Beliau. Sudah sewajarnya, kita sebagai manusia memiliki kewajiban menjaga dan memelihara segala ciptaa-Nya.

 

Rahinan Tumpek Uye jatuh setiap 6 bulan (210 hari) sekali. Dasar perayaan Rahinan ini menggunakan puncak jatuhnya Sapta Wara, Panca Wara dan Pawukon atau Wuku sesuai dengan nama Tumpeknya. Jadi Rahinan Tumpek Uye jatuh pada hari Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Uye.

 

Apakah Umat Hindu Memuja Binatang?

Pertanyaan terebut pasti pernah kita tanyakan walaupun dalam hati. Hal tersebut merupakan kewajaran, saat kita belum tahu dan belum paham terhadap peristiwa yang terjadi. Apalagi peristiwa tersebut merupakah hal baru bagi kita. Sehingga menyebabkan bermunculan pertanyaan - pertanyaan liar yang membutuhkan jawaban.

 

Apakah Umat Hindu memuja Binatang?

Sebenarnya umat Hindu tidak memuja Binatang, tetapi merupakan sebagai bentuk rasa puji syukur kepada semua ciptaan Tuhan. Karena pada saat Rahinan Tumpek Kandang umat Hindu berkesempatan memberikan persembahan (Yadnya) kepada binatang yang telah membantu Manusia serta bermakna untuk melestarikan binatang dan menambah kesadar umat manusia agar lebih meningkatkan kasih sayang kepada binatang dan lingkungannya. Menyayangin binatang tidak sebatas pada hari tertentu, tetapi setiap hari harus menyayangi binatang karena semua binatang memiliki hak hidup seperti manusia. Serta binatang merupakan ciptaan Tuhan.

 

Dalam Agama Hindu terdapat 5 kepercayaan dasar yaitu Panca Sradha. Panca Sradha yang terdiri dari percaya dengan Tuhan, Atma, Karma Phala, Punarbawa dan Moksa. Jadi melalui kepercayaan tersebut Umat Hindu percaya alam semesta beserta isinya merupakan ciptaan Tuhan dan semua ciptaan Tuhan memiliki Atma.

 

Sementara itu, dalam kitab Yajurweda sloka XVI.48 menyebutkan “berbuatlah agar semua orang, binatang-binatang dan semua makhluk hidup berbahagia”. Hal ini sejalan dengan Petikan Mantra Puja Trisandya Bait Ke-5 yang berbunyi “Sarvaprani hitankarah” (hendaknya semua makhluk hidup sejahtra).

 

Sementara itu, dalam lontar Saramuscaya juga mengingatkan "Ayuwa tan masih ring sarwa prani, apan prani ngaran prana", yang artinya jangan tidak sayang kepada binatang, karena binatang atau makhluk adalah kekuatan alam.

 

Sayangilah binatang seperti menyayangi diri sendiri dan sesama, karena bagaimanapun binatang merupakan ciptaan Tuhan. Manusia memiliki peran penting terhadap kelangsungan hidup binatang. Keberadaan manusia juga menjadi penentu terhadap kehidupan binatang. Kepunahan maupuk kelestarian binatang merupakan tanggung jawab manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, kita sebagai manusia sudah sewajarnya menjaga kelangsungan hidup binatang.

 

Batasan Perayaan Hari Tumpek Kandang

Dalam tradisi Hindu Bali, hewan peliharaan menjadi fokus utama perayaan Tumpek Kandang. karena hewan tersebut di kandang agar memberikan manfaat pada manusia. Contohnya Sapi, Kerbau, Kambing dan lainnya.

 

Adanya fokus perayaan kepada hewan yang di kandang yaitu karena hewan tersebut mampu memberikan manfaat secara langsung kepada pemilikinya. Semisal memelihara sapi, maka sudah sewajarnya mengungkapan selamat pada sapi tersebut karenan telah membantu dan bermanfaan kepada pemiliknya. 

 

Memang fokus perayaan kepada hewan yang di kandang, tetapi bukan berarti hewan di luar itu tak tiperlakukan dengan baik. Karena bagaimanapun semua hewan liar maupun hewan berbahaya pasti bermanfaan bagi manusia. Memang hewan tersebut tidak secara langsung bermanfaan bagi manusia, tetapi hewan tersebut bermanfaat sebagai rantai makan. Salah satu contoh hewan berbahaya yaitu ular. Ular sangat berbahaya, tetapi dengan adanya ular mampu mengendalikan hama tikus.

 

Jenis Banten Upakara Tumpek Kandang

Berdasarkan sumber Jurnal Ilmu Agama. Terdapat tiga tingkatan banten dalam uapkara Tumpek Kandang / Tumpek Uye. Ketiga tingkatan tersebut, yaitu :

  1. Banten Alit (terkecil/nista), adapun bantenya sebagai berikut : Pras Penyeneng, Guru, tegen-tegenan yang isinya nasi yang dibungkus dengan daun pisang, buah pinang yang lebih dari satu biji, kemudian dilengkapi dengan daksinayang berisi kelapa yang sudah dihilangkan kulitnya, telur, tipat, beras secukupnya, dan diatasnya ditaruh canang sari.
  2. Banten Madya (sedang), adapun bantennya sebagai berikut : Sesayut, pengambean, pengulapan, pras pemyeneng, dan jerimpen kemudian juga dilengkapi dengan daksina yang berisi kelapa yang sudah dihilangkan kulitnya, telur, tipat, beras secukupnya, dan diatasnya ditaruh canang sari. Selanjutnya wakul, wakul ini terbuat dari daun ron atau daun dari pohon sengon, kemudian tangkih yang dibuat dari daun kelapa atau janur yang isinya saur, kacang, dan telur, serta dilenkapi dengan sampian latih guak.
  3. Banten Agung (utama), adapun bantennya sebagai berikut : Sayut pengambean, pras penyeneng, banten guru, sayut pengulapan, pucak manik, banten penyegjeg, banten pengiring, sayut tebasan, sayut telepokan, tegen-tegenan, dan banten guling. Banten guru yang isinya tumpeng, telur, pisang empat biji, sampai dengan gambah, banten bguling yang berisikan aledan tajuh, tumpeng 2 buah, pisang, cemper, sertadilengkapi dengan sampian yang terbuat dari janur banten guling ini ditaruh disebelah guling.

Ketiga banten tersebut tidak ada yang spesial, artinya banten tersebut mempunyai makna yang sama di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kualitas Yadnya tersebut akan terlihat tergantung dari pelaksanaan Yadnya tersebut.

Makna Perayaan Tumpek Kandang bagi Manusia

Sama halnya seperti Binatang yang di kandang agar dapat memberikan manfaat bagi Manusia. Begitu juga makna perayaan Tumpek Kandang bagi Manusia itu sendiri. Manusia harus mampu mengandangkan atau melepaskan pikiran yang begitu liar, agar manusia mampu membatasi atau mengekang keinginan seperti binatang.

 

Pengendalian atau penyucian diri sejala dengan konsep Tri Kaya Parisudha. Pengendalian diri tersebut terdiri dari berfikir yang benar (Manacika), berkata yang benar (Wacika) dan bertindak yang benar (Kayika). Sebagai manusia sangat penting dalam mengendalikan ketiga hal tersebut, karena semua berawal dari pikiran yang akan mempengaruhi perkatan dan perbuatan.

 

Selain itu, pada perayaan Tumpek Kandang juga mengingatkan kita sebagai Manusia memiliki sifat Tri Guna. Tri Guna merupakah tiga unsur dari sifat manusia. Sifat dasar tersebut yaitu sifat damai (satwam), sifat ambisi (Rajas), dan sifat malas (Tamas). Binatang memiliki sifat Rajas dan Tamas. Maka pada perayaan Tumpek Kandang kita memohon pengendalian sifat tersebut kepada Tuhan dan meningkatkan sifat Satwam.

 

Kitab Warasapati Tatwa sloka 24 menyebutkan tentang pengendalian sifat tersebut : "Yapwan tamah magong ring citta, ya hetuning Atma matemahan triak, ya ta dadi ikang dharmasadhana denya, an pangdadi ta ya janggama". Artinya : Apabila tamah yang besar pada citta, itulah yang menyebabkan Atma menjadi binatang, ia tidak dapat melaksanakan dharma olehnya, yang menyebabkan menjadi tumbuh-tumbuhan.

 

Makna Ekologi dalam Perayaan Tumpek Kandang

Perayaan Tumpek Kandang pada masyarakat Hindu Bali yang merupakan sebagai bentuk penghormatan hewan atau hak asasi alam. Dalam Jurna Studi Agama Satya Widya, terdapat beberap prinsip teori ekologi yang sejalan dengan perayaan Tumpek Kandang, yaitu :

  1. Biospheric egalitarianism-in principle, yaitu pengakuan semua organisme adalah berstatus sama dari segala keseluruhan yang terkait.
  2. Nonantroposentrisme, yaitu manusia merupakan bagian dari alam, bukan di atas atau terpisah dari alam.
  3. Realisasi diri (self-realization), realisasi diri manusia sebagai ecological self yaitu pemenuhan dan perwujudan semua kemampuannya yang beraneka ragam sebagai makhluk ekologis.
  4. Pengakuan dan penghargaan terhadap keanekaragaman dan kompleksitas ekologis dalam suatu hubungan simbiosis;
  5. Perlu perubahan politik menuju ecopolitics, yaitu mencapai suatu keberlanjutan ekologi secara luas yang berjangkauan jauh ke depan.

 

Setiap makhluk hidup seperti manusia, hewan dan tumbuhan memiliki hubungan erat yang tidak dapat di pisahkan. Salah satu contoh manusia memperlukan asupan daging dari hewan, dan hewan membutuhkan makanan dari tumbuh - tumbuhan. Karena ketiga hubungan tersebut tidak bisa terpisahkan. Apabila manusia memiliki sifat serakah terhadap alam dan tidak ada niat melestarikannya. Maka lambat laut akan terjadi ketidak seimbangan di alam.

 

Kesimpulan

Rahinan Tumpek Uye atau Tumpek Kandang jatuh setiap 6 bulan. Upacara ini merupakan pemujaan kepada Shang Hyang Pasupati atau Shang Hyang Rare Angon yang merupakan penguasa para Binatang. Pemujaan tersebut merupakan bentuk rasa syukur Umat kepada Tuhan karena telah menciptakan alam semesta beserta isinya. Khususnya ungkapan syukur kepada para binatang.

 

Binatang memiliki peran penting terhadapa ekosistem alam. Tanpa adanya binatang akan menyebabkan ketidak seimbangan di alam. Sudah seharusnya untuk menjaga kelestarian fauna, karena bagaimanpun kelestarian fauna merupakan tanggung jawab manusia. Bukan karena manusia sebagai penguasa alam, tetapi karena manusia merupakan bagian dari ekosistem alam. Om Shanti, Shanti, Shanti Om.

 

Daftar Pustaka

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top